Kisah Perjuangan Andi, Ketua BFLF Banyumas, Jateng (1)

 


Keberadaan Rumah Singgah bagi pasien dan pendamping yang berasal dari luar daerah yang jauh dengan Rumah Sakit Umum Daerah rujukan di Indonesia, agaknya menjadi pertimbangan besar untuk masyarakat dalam melanjutkan pengobatan. Pasalnya, meski biaya rumah sakit telah ditanggung pemerintah, namun pengeluaran lain seperti biaya tempat tinggal, konsumsi, dan transportasi, selama berobat tidaklah sedikit.    

Semangat berbagi dan memudahkan tiap pasien yang kurang mampu di Aceh, dengan fasilitas rumah singgah gratis, telah digalakkan BFLF Indonesia sejak 2014. Tak hanya tempat tinggal, kebutuhan makanan pokok seperti beras, air munum, minyak goreng, dan lainnya, juga tersedia dan dapat diakses oleh pasien dan pendamping yang berada di Rumah Singgah BFLF. Bahkan, bagi pasien yang tidak memiliki biaya transportasi, tak jarang ambulans BFLF siap mengantar jemput pasien lintas kabupaten di Aceh.

Hal yang sama terjadi di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Sebuah Rumah Singgah cabang BFLF di Banyumas menyediakan fasilitas serupa. Rumah Singgah Ar Rayyan namanya. Dikelola oleh Ketua BFLF Banyumas, Hamidillah dan isterinya Asri Purwati.


“Rumah Singgah Ar Rayyan artinya rumah menuju syurga. Semua pasien yang kurang mampu yang ingin berobat, bisa tinggal di sini. SOP Rumah Singgah Ar Rayyan juga sama seperti Rumah Singgah BFLF di Aceh,” kata Ketua BFLF Banyumas yang akrab disapa Andi.

Kabupaten Banyumas di Jawa Tengah layaknya Kota Banda Aceh di Provinsi Aceh. Ada banyak Rumah Sakit Umum Daerah di Banyumas yang menjadi rujukan dari Rumah Sakit di daerah lain. Satu di antaranya Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo. Bukan hanya warga Jawa Tengah yang berobat ke sana, namun pasien dari Provinsi Jawa Barat juga sering dirujuk ke RSUD tersebut.

Rumah Singgah Ar Rayyan berada tak jauh dari RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Sekitar 20 menit berjalan kaki dari Rumah Singgah. Ada empat kamar di sana. Satu kamar untuk dua pasien dan pendamping. Rumah Singgah Ar Rayyan juga menjadi rest area untuk ambulan yang bertugas mengantarkan pasien luar daerah, ke daerah manapun di Pulau Jawa.


Selain itu, BFLF Banyumas juga aktif berbagi makan siang tiap Jumat di bangsal kelas tiga rumah sakit untuk pasien dan pendamping. Andi juga turun ke jalan berbagi makanan kepada pengendara becak dan petugas kebersihan. Tak ketinggalan, mereka juga sigap dengan aksi sedekah air untuk masjid tiap Jumat.

“Itu cerita sebelum pandemi. Sekarang, Rumah Singgah belum bisa beroperasi, karena kita berada di kompleks perumahan warga. Jadi, untuk mengantisipasi penyebaran dan keamanan warga, sementara Rumah Singgah tidak beroperasi. Namun, aktifitas lain seperti berbagi sembako tiap bulan masih terus berlanjut,” terang Andi.

Selama hampir dua tahun menjadi bagian dari BFLF, kerja sosial Andi tak kalah dengan pengurus BFLF pusat di Banda Aceh. Sampai hari ini, BFLF Banyumas telah memiliki pasien dampingan. Pasien Thalasemia dan Leukemia. Pasien dampingan ini lebih 15 orang. Kebanyakan mereka adalah balita yang harus dirujuk ke RSUD Dr. Sardjito, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Mereka yang dirujuk ke RSUD Dr. Sardjito, akan diantar langsung oleh Andi dengan Ambulans BFLF. Mereka berkumpul di Rumah Singgah Ar Rayyan dan berangkat setelah salat Isya. Biasanya tiba di Kabupaten Sleman pukul dua malam. Di sana, kata Andi, BFLF juga punya mitra. Ke sanalah mereka beristirahat sebelum menuju RSUD Dr. Sardjito pada esok harinya. [] Desi Badrina

Share this:

Tidak ada komentar