Menjelang Satu Dekade BFLF


Dokumentasi bersama Ketua PAPDI Aceh, dr. Muhammad Diah Sp.PD (nomor tiga dari kiri) bersama Direktur BFLF Indonesia  (nomor tiga dari kanan). Foto: Khairul Umam

Sejak terbentuknya Blood For Life Foundation (BFLF) pada 26 Desember 2010, BFLF telah melakukan upaya pemenuhan kebutuhan darah secara meluas di Aceh. Upaya itu dilakukan secara bersama-sama dengan menyebarkan informasi lewat grup WhatsApp dan media sosial lainnya.

Setelah terbentuk BFLF di 17 kabupaten kota se Aceh, pemenuhan kebutuhan darah di daerah pun, menjadi lebih nyata. Selain itu, keberadaan Rumah Singgah BFLF di Banda Aceh sejak 2014, bagi pasien kurang mampu dari luar ibu kota provinsi, sangat meringankan beban para pendamping pasien.

Pasien dan keluarga pasien tidak hanya mendapatkan fasilitas tempat tinggal gratis, mereka juga mendapatkan bahan pokok seperti beras, minyak goreng, air siap minum, dan lain sebagainya. Tak hanya itu, demi menyamankan para pasien dan keluarganya, dapur Rumah Singgah juga dapat diakses bersama-sama.    

Awal Juli merupakan langkah baru bagi pengurus BFLF. Menyambut satu dekade BFLF pada Desember mendatang, mereka berupaya memberikan yang terbaik untuk masyarakat Aceh. Ide demi ide terus bergulir guna memudahkan orang yang ingin berobat dan kurang mampu mendapatkan pengobatan yang layak.

Saat ini, mereka sedang merintis kerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) cabang Aceh, membuka klinik sehat gratis bagi masyarakat kurang mampu, yang berdomisili seputaran Banda Aceh dan Aceh Besar. Dengan menempatkan sekretariat PAPDI di Rumah Singgah BFLF yang berada di jalan Gabus, nomor 52, Lampriet, Banda Aceh.

Nantinya, ide itu akan berlanjut pada kunjungan PAPDI yang difasilitasi BFLF mengunjungi daerah pelosok di Aceh, memeriksa pasien yang kurang mampu dan tidak sempat berobat ke Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA), di ibu kota provinsi. [] Desi Badrina

     

Share this:

Tidak ada komentar