“Donor Kok Pamer” Menuai Pujian

Arief Arbianto ketika melakukan donor darah rutinnya ke-25, Jumat (17/7). Foto: Dokumen pribadi 
Catatan Arief Arbianto yang berjudul Donor Kok Pamer menuai banyak pujian dari Facebook Grup Donor Darah Se-Indonesia. Tulisan yang dimuat pada laman website BFLF, Sabtu (18/7), telah mencapai 1,72 ribu pengunjung, pada Rabu (22/7).

Boss, mesti kali di-share di sosmed tiap kali donor. Apa masih ada pahalanya? Nampak kali nggak ikhlasnya, tiap berbuat kebaikan ditunjukkan gitu. Biar semua orang tahu ya?” Tulis Arif dalam pembuka catatannya.


Saat ditanya apa yang membuat Arief menulis satu kampanye dengan bentuk ajakan unik seperti itu, dia mengatakan, sebenarnya ia hanya ingin menggugurkan anggapan orang tentang “pamer dan pencitraan” dalam tiap kebaikan yang dipublikasikan.

Menurutnya, jarang orang mengekspos sesuatu yang baik, seperti berfoto saat donor darah, untuk kepentingan profokasi, dengan tujuan ayo ikut donor darah.

Ia menceritakan ihwal kenapa tulisan itu akhirnya ia rilis pertama kali pada akun Facebooknya, Mawasep Kosonglapan. Katanya, dia baru saja melakukan donor darah pada Jumat (17/7). Dan aktifitas memajang foto dirinya sedang donor darah, di akun media sosial miliknya, memang selalu dia lakukan.

Namun hari itu, setelah sempat berdiskusi tentang tren bersepeda dalam grup media sosial yang diikutinya, ternyata muncul ide untuk “melatahkan” aksi donor darah, lewat foto dan kata-kata yang ternyata menuai banyak pujian

Menilik dari fenomena bersepeda, Arief yakin, latah yang baik, akan menghadirkan kecenderungan yang baik pula.

“Orangkan sering terperangkap dengan kata riya atau pamer. Akhirnya karena takut pamer atau riya itu, dia hanya melakukan kebaikkan untuk dirinya sendiri, karena diangap kebaikan donor darah menghasilkan pahala,” jelas Arief.

Ketika aksi donor darah dianggap mendatangkan pahala, lanjut Arief, dan saat lagak tersebut ia sebarkan di media sosial, maka oleh kebanyakan orang, dia telah mengorbankan “pahala” dari kebaikan donor darah itu.

“Katakanlah saya mengorbankan pahala dari pamer donor darah yang saya lakukan. Tapi, kalau pahala saya yang hilang itu, kemudian ada 10 orang lagi berbuat kebaikan, karena pengorbanan aksi pamer yang saya lakukan, apakah pahala mereka tidak balik ke saya? Kan mereka donor setelah saya pamer, misalnya,” kata Arief, meluruskan tentang esensi Donor Kok Pamer dalam tulisannya.

Masalah apakah dia riya atau pamer, biarlah itu menjadi urusannya. Dia berharap, semua orang juga menunjukkan kegiatan donor darah yang pernah mereka lakukan di semua akun media sosial mereka, dengan niat, mana tahu akan jadi sebuah tren.

Arief meminta pada insan aktif mendonorkan darahnya, agar tidak terjebak dengan anggapan satu kebaikan dari aksi donor darah akan hilang pahalanya saat dipertontonkan di media sosial.

Catatan Arief Arbianto kemudian dibagikan oleh Direktur BFLF, Michael Oktaviano pada seluruh Facebook Grup yang berhubungan dengan donor darah yang dia follow atau like

Seperti Perhimpunan Donor Darah Indonesia (PDDI) yang beranggotakan 13.834 ribu, Thalasemia Indonesia dengan anggota 9.849 ribu yang dibagikan oleh Pipiet Senja, seorang penyandang thalasemia tertua di Indonesia. Dan Grup Donor Darah Sukarela dengan jumlah anggota 2.756 ribu.  Dan masih banyak lagi.

Beragam komentar di badan wall grup tersebut masuk. Hampir semua anggota grup yang sempat membaca tulisan Arief mengapresiasi caranya berkampanye. Bahkan semua orang terlihat membagikan foto mereka saat mereka sedang dalam proses mendonor.  

Berikut beberapa komentar yang sempat redaksi kutip dari Facebook Grup:

“Saya biasa sosialisasi ke anak-anak sekolah dan masyarakat lalu ada yang tanya, bapak sendiri sudah donor, tinggal nunjukin kartu donor yang manual dan foto-foto saat donor. Intinya masyarakat kita masih butuh contoh, teladan, dan ajakan. Dan maaf, paksaan,” komentar Qohar Mahmudi dari Perhimpunan Donor Darah Indonesia (PDDI)

“Menurut saya mereka yang donor darah terus posting di media sosial itu baik, bahkan membuat orang lain tertarik untuk ikut mendonorkan darahnya. Terima kasih para pendonor. Tuhan membalas kebaikan kalian,” tulis Gregorius Nafanu.

Ada yang lebih ekstrim menanggapi persoalan pamer ini. Dari Diji Kho. Katanya “yang nggak suka ya ndak usah baca, terus pas butuh darah, ndak usah bingung minta tolong, teriak-teriak di medsos. Share hal yang baik dikomentari jelek, tapi kalau ada yang share kejahatan dan anarkis di dukung.”

Dan terakhir tanggapan dari Windy SA Liklikwatil, “pamer? Biar Tuhan yang menilai itu pamer apa bukan. Kita manusia nggak berhak men-judge. Salah-satu tujuan teman-teman pendonor, posting foto saat dia donor adalah mengajak dan juga memberi motivasi untuk teman-teman yang belum pernah mendonorkan darahnya untuk ikut ambil bagian dalam kegiatan donor darah.

Agaknya, harapan Arief Arbianto mengkampanyekan “Donor itu Keren” dengan cara menampakkan bukti foto dan dipajang di media sosial, cukup memengaruhi beberapa grup besar pendonor darah.

“Semoga donor darah dapat menjadi aktifitas yang orang ndak ragu lagi, ketika sudah waktunya. Bila perlu dia yang membuat alarm, 'oke sudah dua bulan dan waktunya saya donor',” tutup Arief Arbianto.[] Desi Badrina

Share this:

Tidak ada komentar