Ketika Gampong Mampu Penuhi Kebutuhan Darah (2)


Artikel ini pernah dimuat di Acehnews.co. Kembali diangkat untuk merefleksikan upaya BFLF dalam pemenuhan kebutuhan darah untuk Indonesia. Rekam jejak menjelang satu dekade BFLF.

BFLF Aceh Selatan juga berhasil menjadikan isu edukasi donor darah tercantum dalam Peraturan Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan, nomor 140/832/2017 yang dikeluarkan pada 17 Oktober, tentang Program Kegiatan Memasyarakatkan Donor Darah di 260 gampong yang berada di18 Kecamatan di Aceh Selatan.

Dalam peraturan itu disebutkan, setiap gampong di Aceh Selatan melalui Anggaran dan Belanja Gampong tahun 2018 dan seterusnya, dapat membuat program dan menggunakan dana desa untuk kegiatan sosialisasi donor darah. Selain itu, para pendonor aktif di desa itu, akan diapresiasi lewat pemberian menu tambahan empat kali dalam setahun.

Tak hanya itu, peraturan tersebut juga mengharuskan adanya layanan Kader Donor Darah di setiap gampong, minimal satu orang. Kader ini nantinya bertugas mendata pendonor darah aktif dan pasif, memfasilitasi kebutuhan darah bagi pasien, dan memotifasi masyarakat sadar akan pentingnya donor darah.

Sehubungan dengan Peraturan Bupati tersebut, Ketua BFLF Aceh Selatan, Gusmawi Mustafa mengatakan mereka telah membangun komunkasi dengan para camat, untuk mensosialisasikan peraturan tersebut, yang melibatkan seluruh aparatur gampong.

“Kami sudah melayangkan surat pemberitahuan ke 260 gampong. Nanti, tanggal 7 dan 9 Nopember ini, BFLF akan ke Kecamatan Sawang dan Labuhanhaji. Kami akan sosialisasi dan melayangkan form data pendonor, untuk dijadikan database darah di gampong itu,” ungkapnya.

Ia mengatakan, pertemuan itu nantinya akan melibatkan seluruh aparatur gampong, seperti kecik, tuha pet, tokoh perempuan, ketua pemuda, dan tokoh masyarakat lainnya.

“Jadi, setiap ada pasien yang membutuhkan darah di desanya, nanti tinggal melihat di papan pengumumn di kantor kechik, golongan darah apa yang mereka butuhkan lengkap dengan data calon pendonor,” terang Gusmawi.

Ia yakin, dengan gotong-royong dan melibatkan semua pihak, hingga ke gampong, peluang tercukupinya darah untuk Kabupaten Aceh selatan dengan jumlah penduduk lebih 206 ribu jiwa, akan terterpenuhi.

Mengetahui dukugan pemerintah kabupaten itu, Kepala Instalasi Transfusi Darah (ITD) RSUZA, Banda Aceh, dr Yulia Ramadhani mengatakan hal terpenting dalam sosialisasi donor darah adalah pelestarian donor.

“Kalau di RSUZA ini, pelestarian donor kami buat tiga sampai empat kali setahun. Selama tiga tahun berdiri ITD sampai sekarang, hampir semua pegawai, termasuk cleaning servic di sini, sudah berrsedia mendonorkan darahnya,” kata Kepala ITD RSUZA.

Pelestarian donor inilah yang sedang digencar-gencarkan oleh semua pihak rumah sakit di Aceh untuk memenuhi kebutuhan stok darah. Meski kebutuhan perbulan di ITD RSUZA terpenuhi hampir 3000 kantong perbulan, namun sulitnya mendapatkan pendonor masih terasa.

Sementara itu, melihat gebrakan relawan BFLF Aceh Selatan, Direktur BFLF, Michael Oktaviano mengatakan, payung hukum donor darah di Aceh Selatan, mungkin yang pertama di Indonesia.

“Kebutuhan darah untuk operasi, melahirkan, kecelakaan, Thalasemia, Hemofilia, sampai saat ini belum ada yang bisa menggantikan darah. Dengan Perbup itu, selesai sudah masalah stok darah di Aceh Selatan. Malahan mereka bisa surplus darah kekabupaten lain,” kata Michael Oktaviano.

Michael berharap, ada yang melihat aksi kemanusiaan ini sebagai trend yang dapat menjamur, dan diikuti oleh kabupaten kota lainnya di Aceh bahkan Indonesia.

Sudah ada Cook Islands, Haiti, Iran, Sri Lanka, dan Vietnam yang menjadi negara percontohan dalam mengelola donor darah. Kini daftar negara yang mengelola donor darah itu, dibuntuti sebuah nama baru, Aceh Selatan, yang berhasil menyelesaikan persoalan stok darah dari gampong. [] Desi Badrina




Share this:

Tidak ada komentar